MedanIT

One-stop Solution for your IT needs

Open Source sebagai Solusi Masalah Sosial

By Nich • Apr 18th, 2008 • Category: Sistem Operasi

Open Source (Indonesia: Sumber Terbuka) adalah konsep “membuka kode” sebuah perangkat lunak. Kode yang dimaksud adalah source code (kode sumber) yang menyusun perangkat lunak tersebut. Tentunya, dengan kode yang sama orang lain bisa membuat perangkat lunak yang sama, begitulah kesimpulannya.

Biasanya produk-produk open source ini didistribusikan dengan bebas, tanpa pelarangan untuk diperbanyak, atau dipergunakan tanpa biaya. Tapi perlu diketahui juga bahwa ada klausul khusus untuk tipe-tipe produk open source (lihat, Definis Sumber Terbuka).

Bagi yang sedikit terheran-heran, kenapa ada orang yang mau memberikan produk miliknya secara cuma-cuma, hal ini tidak lepas dari keberadaan produk-produk tidak bebas (proprietary software) yang menimbulkan masalah sosial. Dan parahnya lagi masalah ini justru menjadi suatu paradigma yang melekat di pikiran masyarakat terhadap “bagaimana seharusnya hal itu berjalan”, dan menjerumuskan masyarakat ke dalam prilaku yang melanggar hukum.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk menjelek-jelekkan satu produk terhadap yang lain, hanya berusaha meluruskan dan memberikan suatu cara pandang baru. Tiap produk tentunya menawarkan keunggulan masing-masing, dan anda (termasuk saya) memiliki kebebasan untuk memiliih, bukan begitu?

Ketergantungan Terhadap Proprietary Software

Ketergantungan masyarakat terhadap proprietary software seperti Microsoft Windows sudah tidak dapat dipungkiri lagi di lingkungan masyarakat (konteks masyarakat Indonesia). Hal ini tidak terlepas dari pengenalan awal masyarakat terhadap komputer. Kalau diamati, sepertinya sebagian besar pengguna komputer di Indonesia (termasuk saya) pada awalnya menggunakan sistem operasi Microsoft Windows. Baik itu di tempat kursus komputer, sekolah, perkuliahan atau pun pelatihan dari kantor. Misi pendidikannya memang bagus, tetapi perkembangan selanjutnya lah yang menjadi masalah.

Microsoft Windows adalah salah satu produk proprietary software, bisa dikategorikan sebagai produk yang didistribusikan untuk dijual, dalam kode binary (hanya buat dijalankan oleh mesin, bukan untuk dibaca oleh mata manusia). Secara bisnis hal ini sah saja, mereka bekerja untuk menghasilkan produk dan menjualnya! Akan tetapi hal-hal seperti lisensi, batasan penggunaan, dan jumlah instalasi sangat lekat dengan proprietary software. Artinya, untuk memperoleh Microsoft Windows ada sejumlah uang yang harus disiapkan dan sejumlah aturan main yang harus diperhatikan dengan baik. Contohnya, untuk lisensi personal satu mesin: anda hanya bisa menginstal Windows di satu mesin, dan mesin tersebut tidak boleh diperuntukkan bagi kegiatan komersil (rental misalnya).

Dari penjabaran di atas, yang menimbulkan masalah sosial adalah ketika masyarakat “hanya bisa” mengoperasikan komputer yang berbasis Windows. Ketergantungan yang oleh sebagian individu dianggap sebagai dampak praktek bisnis yang kurang sehat, memicu masyarakat untuk memperoleh Windows dengan cara yang sebenarnya bertentangan dengan aturan proprietary software tadi. Bagi yang tidak punya uang untuk membayar lisensi, membajak Windows pun ditempuh. Belum lagi tentang penggunaannya yang seharusnya tidak untuk kepentingan komersil, aturan itu pun dilanggar. Ini jelas salah di mata hukum, dan masyarakat harus betah kucing-kucingan dengan pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk penertibannya.

Memasyarakatkan Software Open Source

Sebenarnya masalah ini dapat diatasi, seandainya masyarakat tidak terlanjur tergantung kepada produk proprietary software yang satu ini. Untuk itu lah, maka Open Source Software perlu diperkenalkan kepada masyarakat. Hal ini sudah ditempuh oleh Departemen Riset dan Teknologi (RISTEK) Indonesia dengan upaya mengenalkan produk Open Source Software kepada masyarakat melalui Program Pendayagunaan Open Source Software (POSS). Salah satu instansi pendidikan yang turut serta dalam program ini adalah Politeknik Informatika Del (POSS PI-Del).

Memasyarakatkan Open Source Software sedini mungkin, seperti ke sekolah-sekolah, sebenarnya cukup efektif untuk mengantisipasi kondisi “hanya bisa” tadi. Dengan menginjeksikan pengetahuan terhadap sistem operasi alternatif, sebuah paradigma baru pun dilahirkan.

Tentunya kita semua punya harapan besar untuk menghindarkan nama Indonesia tercemar dengan sebutan “negara pembajak” atau “sarang pembajak“. Jadi mulai lah menggunakan produk anda sesuai dengan aturan mainnya. Jika anda menggunakan Windows, pastikan produk anda terlisensi. Atau jika anda merasa terlalu mahal untuk membeli lisensi Windows (dan mematuhi aturan mainnya), silahkan migrasi ke sistem operasi yang berbasis open source. Migrasi sebenarnya tidak mustahil untuk dilakukan oleh individu, sedangkan perusahaan tempat penulis bekerja sebelumnya (PT. Citra Tubindo, Tbk) pun sudah melakukannya dengan sangat baik.

Share/Save/Bookmark


 
Tagged as: , , , , ,

Nich
Email this author | All posts by Nich

2 Responses »

  1. Iya, mari kita masyarakatkan open source.
    Biar teknologi tidak hanya beredar di orang-orang berpunya saja.

  2. benar nih, saatnya menjadi masyarakat yang jeli ;)

Leave a Reply


Tautan komentar adalah nofollow free.